Minggu, 15 Mei 2016

MARKUS 11:20-26 --GUNUNG DAPAT BERPINDAH

Pendahuluan
.......

1. Allah Dapat dipercaya
Kita tidak mungkin dekat sama seseorang kalau orang itu tidak bisa dipercaya, begitupun sebaliknya. dstx...
saat melihat pohon ara kering sampai ke akar-akarnya, Petrus teringat bahwa benar2 terjadi apa yang Yesus lakukan terhadap pohon ara itu, jadi pohon ara yang mengering karena kutukan Yesus menjadi batu loncatan bagi diskusi tentang apa arit dari kepercayaan kepada Allah.

Yesus mengajak mereka untuk percaya kepada Allah dalam arti bahwa mereka mesti Iman yang teguh dan berkesinambungan/dalam segala sesuatu. tidak hanya ketika merasa nyaman atau dalam puncak-puncak keberhasilan barulah datang mendekat mengucap syukur kepada Tuhan, dan tidak juga ketika berada dalam lembah kekelaman barulah seseorang datang mendekatkan diri kepada Tuhan. tapi terkadang yang terjadi justru sebaliknya bahwa ketika seseorang dalam sebuah puncak keberhasilan justru semakin menjauh dari Tuhan dan merasa bahwa apa yang dicapainya itu adalah kerja keras dan usaha dirinya sendiri, sehingga tidak perlu untuk mengandalkan Tuhan, ada juga yang ketika berada dalam lembah kekelaman bukannya mendekat kepada Tuhan tapi justru semakin menjauh dan mencari tempat pelarian. iman yang berkesinambungan adalah apapun keadaan dan situasi akan tetap sama kepada Tuhan.
boleh juga dibahasakan  sebagai iman yang bergantung kepada Allah: ingat anak-anak yang begitu berharga di mata Yesus, anal-anak dalam pandangan orang dewasa terkadang lemah karena punya kebergantuang yang kuat terhadap orang dewasa terutama kepada orang tua mereka, namun justru sikap seperti itu yang Tuhan kehendaki dari kita  yakni punya kebergantungan yang kuat kepada Tuhan.
jadi dalam iman itu jika seseorang meminta sesuatu dalam doa yang disertai sikap percaya maka ia akan menerima apa yang dimintanyan itu.

2. Memindahkan Gunung
ketidakbimbangan dapat mencampakkan gunung. artinya dengan iman gunung dapat dipindahkan.
gunung tidak hanya bisa didaki dan berdiri diatasnya sambil menikmati pemandangan yang indah dari atasnya, namun Yesus menekankan kepada murid sesuatu yang diluar dugaan bahwa ternyata dalam kepercayaan kepadaNya maka gunng itu dapat dipindahkan. gunung memang sering mengahalang pandangan kita dan hanya kekuatan dari Tuhanlah yang memampukan kita menghadapinya.
gunung itu macam-macam:
gunung kekuatiran, gunung ketakutan, kepahitan dari hati serta memusnahkan melalui iman di dalam dia. kuasa iman yang juga dapat meruntuhkan tembok2 pemisah kurangnya pengampunan dapat menghambat kuasa doa.
jadi kadang2 hati yang sulit mengampuni bisa lebih kerang dari gunung manapun.

Selasa, 05 Januari 2016

MANAJEMEN KONFLIK: MENGATASI KONFLIK SUAMI ISTRI YANG TERJADI PADA ADAM DAN HAWA. Kejadian 3:1-22. Oleh: Pdt. Yustina Pabidang, M.Th.



              MANAJEMEN KONFLIK:

A.    Jenis Konflik:
         Dalam konflik Adam dengan Hawa terjadi konflik hubungan berdasarkan hubungan interpersonal, Adam telah memulai konflik dengan Hawa istrinya karena kepentingan pribadi yang masing-masing membenarkan diri di hadapan Allah. Bahkan saling mencari kambing hitam atas kesalahan yang mereka perbuat.
B.     Penyebab Konflik
1.  Adam tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk mengingatkan istrinya, karena Adamlah yang mendapat perintah langsung dari Tuhan tentang buah larangan itu (Kej. 2:15-17)[1] tanpa sepengetahuan Hawa, karena pada ayat 18 Allah baru menyadari kalau tidak baik jika manusia itu seorang diri saja, akan dihadirkan seorang penolong yang sepadam dengan dia.
2.  Ular yang memperdaya Hawa. Ular ini menyerang Allah melalui ciptaan-Nya. Dia mengatakan bahwa apa yang dikatakan Allah kepada Adam tidak benar (Kej 3:3-4); “Ular” kemudian disebut sebagai Iblis (Why 12:9; Why 20:2). Iblis jelas menguasai ular dan memakainya sebagai sarana dalam mengadakan pencobaan (2 Kor. 11:3,14; Why 20:2). Jadi dalam hal ini dalam kenyamanan yang mereka alami di taman yang indah itu, ada pihak ketiga yang membuat mereka melanggar.
3.  Hawa membiarkan dirinya diperdaya oleh ular, meskipun ia sudah mengetahui akibat yang ditimbulkan jika melakukan pelanggaran (Kej.3:3) tapi tidak mampu melawan rayuan si iblis, bukannya menghindari.
C.   Tahap-tahap Terjadinya Konflik.
1)  Berawal dari Adam yang tidak menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk membimbing dan mengingatkan istrinya agar tidak melakukan pelanggaran kepada Allah pencipta dan pemelihara mereka. Padahal dia yang mendapat perintah langsung dari Tuhan tentang buah larangan itu, justru ketika Hawa menawarkannya ia malah ikut memakannya, dan bukannya menegur Hawa. (band. Kej.3:6b). Kejatuhan mereka ini yang membuat mereka nantinya berkonflik juga karena kehadiran pihak ketiga, yakni Iblis, yang datang merayu dan memperdaya Hawa untuk melawan Tuhan dengan melakukan pelanggaran. Awalnya Hawa menolak dengan alasan yang sudah dia ketahui (mungkin dari suaminya) namun ular yang begitu cerdik (Kej. 3:1) datang kepada Hawa dengan memenggal pesan Allah itu bahwa “tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”. Dan perempuan itu langsung menyahut ular itu. Ia meladeni godaan yang datang kepadanya. Jadi secara tidak sadar perempuan itu menunjukkan kesediaan untuk berunding dengan penggoda. Dia tidak memiliki kebijaksanaan seperti kata-kata Yesus dalam Matius 4:10 “Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" dan nasihat Yakobus dalam Yakobus 4:7. : “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”. Perempuan itu tidak bersalah, polos dan tidak curiga sehingga bukan merupakan tandingan bagi si penggoda yang lihai. Perempuan itu tidak mau diam saja menyaksikan Allah dipahami dengan tidak benar, karena itu dengan berani ia berusaha membetulkan pernyataan si ular! Namun dia mengutip larangan Allah secara salah, yaitu dengan menambahkan kata raba.[2] Jadi saat melakukan tidakan itu, baik Hawa maupun Adam tidak bertanya kepada Tuhan tentang tawaran yang diberikan oleh Iblis kepada mereka, mereka lebih patuh kepada rayuan iblis dengan janji-janjinya bahwa sekali-kali mereka tidak akan mati.(a.4-5). inilah kecerobohan mereka yang berakibat fatal turun-temurun, mengalami keterpisahan dari Tuhan dan menjadi penyebab terjadinya konflik antara Adam dan Hawa karena mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain.
D.   Akibat Konflik  
Akibat Positif.: Pada ayat 15 hal itu merupakan sinar pertama dari keselamatan mendatang, Pra-Injil, karena tersirat janji Allah yang pertama mengenai rencana penebusan dunia. Janji tersebut merupakan kemenangan mutlak umat manusia dan Allah atas Iblis dan kejahatan melalui peperangan rohani antara keturunan wanita (yaitu, Tuhan Yesus Kristus) melawan keturunan ular (yaitu, Iblis dan para pengikutnya). Di sini Allah berjanji bahwa Kristus akan lahir dari seorang wanita (bdk. Yes. 7:14) dan akan “diremukkan” melalui penyaliban. Sekalipun  demikian, Dia akan bangkit, dari antara orang mati untuk membinasakan (yaitu “meremukkan”) Iblis, dosa, dan kematian secara sempurna demi keselamatan umat manusia (bdk. Yes 53:5; Mat 1:20-23; Yoh 12:31; Kis 26:18; Rom 5:18-19; 16:20; 1 Yoh 3:8; Wahy 20:10).[3]
Akibat Negatif : Hubungan antara Adam dan Hawa yang tadinya harmonis kini harus retak karena pemberontakan mereka kepada Tuhan dan tidak hidup saling mengingatkan.  Dari   perbuatannya itu berakibat juga kepada anak-anaknya yakni Kain dan Habel, Habel harus menjadi korban dari kejahatan Kain. Mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain. Hawa menyalahkan ular, lalu Adam menyalahkan Hawa dengan menyebutnya sebagai perempuan, bahkan Adam juga menyalahkan Tuhan, bahwa Tuhan sudah keliru menempatkan perempuan di sampingnya. ( Selain itu mereka harus menerima kutuk dari Tuhan. Kepada Hawa a.16-19: “Susah payahmu.... akan kubuat sangat banyak” kehamilan dan melahirkan anak akan disertai dengan rasa sakit. Yang melukiskan rasa sakit baik jasmaniah maupun mental. Hukuman yang dijatuhkan Allah pada pasangan manusia yang pertama yang bersalah itu mengenai mereka justru dalam tugas utamanya. Perempuan dihukum sebagai ibu dan isteri, laki-laki sebagai pekerja. Dosa telah mengacaukan tata susunan sebagaimana dikehendaki Allah: perempuan bukan lagi seorang teman bagi laki-laki yang sederajat dengannya (Kej 2:18-24), tetapi seorang pembujuk laki-laki yang diperbudak oleh pria guna mendapat anak, laki-laki bukan lagi seorang juru kebun Allah di Eden, tetapi ia harus bergumul dengan tanah yang menjadi musuhnya. Tetapi hukuman paling berat ialah: hilanglah persahabatan yang terjalin antara manusia dan Allah, (Kej 3:23). Inilah hukuman yang diwariskan manusia kepada keturunannya, sampai saat ini dan itulah yang memicu adanya konflik karena dosa dalam diri dan orang lain yang melahirkannya.[4]

E.     Penyelesaian Konflik/Managemen Konflik.
1.  Fakta
ADAM
HAWA
Menerima Langsung perintah dari Tuhan tentang buah laranngan. (Kej 2:15-17)
Tidak mendengar langsung dari Allah karena belum diciptakan. Dan kemungkinan hanya mendengar dari suaminya. (Kej 3:2-3)
Adam tidak digoda langsung oleh Iblis namun ia mendengarkan perkataan istrinya dan memakan buah larangan.
Didekati oleh ular karena berpeluang mudah tergoda dan takluk lewat pendengaran
Fakta bahwa Adam harus bersusah payah untuk mengerjakan tanah yang telah dikutuk Allah
Hawa harus menderita dan tunduk kepada laki-laki.
Adam “dimusuhi” oleh Allah dan diusir dari Eden
Hawa “dimusuhi” oleh Allah dan diusir dari Eden

1.  Gaya manajemen konflik yang diterapkan Adam dan Hawa adalah “Gaya Competing, yaitu saya menang dan anda kalah. Adam menyalahkan Hawa agar diloloskan dari penghakiman dan hukuman Allah, sebaliknya Hawa mencari kambing hitam dari kesalahan yang dibuatnya itu. (a.12-13)
2.  Kategori gaya manajemen konfliknya adalah:”menyalahkan satu dengan yang lainnya” asumsi dasarnya adalah : semua pihak yang sedang konflik tidak menemukan jalan konflik pada saat itu, akan tetapi langsung menerima akibat dari tindakan mereka.
3.  Taktik penanganan konflik Adam dan Hawa adalah sebagai berikut: ketika mereka tidak mengakui kelemahan masing-masing yang justru saling menyalahkan dan mencari kambing hitam, Allah langsung mengumunkan akibat dari kesalahan mereka itu, dan juga harus diusir dari hadapan Tuhan dan dari taman Eden. Penanganan konflik ini nanti 2000 tahun berikutnya dan Allah sendiri yang turun tangan menyelesaikan konflik itu melalui kehadiran diriNya dalam pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, (bdk. Rm. 5 17-19; Ibr. 9:28).

F. Kesimpulan.
1. Pesan : Dari sudut pandang teologis, Adam dan Hawa tidak pernah menduga dengan resiko yang harus mereka terima, keindahan kemuliaan Tuhan dan taman Eden itu harus seketika hilang dari depan mereka. Akibatnya tidak hanya mereka yang menanggung pelanggaran itu namun semua orang dibuatnya berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Setiap manusia di kandung dalam dosa dan diperanakkan dalam kesalahan seperti yang dikisahkan oleh Daud dalam Mazmur 51:7)
2. Aplikasi : Bila kita berhubungan dengan orang lain, cepat atau lambat kita akan bertemu dengan konflik. Tidak berarti bila kita hidup sendirian dan tidak berhubungan dengan orang lain, kita tidak bertemu konflik; karena konflik juga dapat terjadi didalam diri sendiri, yaitu konflik pribadi. Konflik muncul ditengah relasi antar manusia karena tidak ada manusia yang sama persis; sehingga seringkali tiap orang memiliki ‘pandangan’ yang berbeda dalam melihat suatu masalah. Bila ada orang yang selalu setuju dengan kita, kemungkinan besar orang tersebut hanya melakukan apa yang kita inginkan bukan apa yang dia percaya. Jadi setiap orang yang sedang membangun dan mengembangkan sebuah relasi antarpribadi yang mendalam, pasti akan menjumpai berbagai konflik (pertentangan) dengan teman berelasinya. Menciptakan konflik harus bertanggung jawab dan siap dengan segala resiko yang ada, tidak dengan mencari kambing hitam untuk keselamatan diri sendiri.
       Memang konflik yang dialami Adam dan Hawa ini berbeda dari beberapa konflik yang dijumpai dalam Alkitab, konflik yang lainnya itu dalam waktu yang relatif singkat menuju pada penyelesaian sedang mereka ini tidak. Justru Allah menyelesaikan konflik itu pada saat mereka sudah tidak ada. Jadi dengan bagian ini kita perlu belajar untuk tidak membiarkan konflik itu berlarut-larut dan membawa masalah pada orang lain atau generasi berikutnya. Konflik tidak perlu dihindari atau dibiarkan, tapi harus ada keberanian untuk melakukan pengakuan dan juga melibatkan Tuhan untuk menangani hal itu. Tidak peduli seberapa kuatnya dan besarnya rintangan menuju penyelesaian, Allah berkuasa untuk mengatasinya, meskipun harus mengorbankan diri-Nya sendiri. Namun yang menjadi catatan bahwa Allah mendamaikan diriNya dengan manusia berdosa bukan karena manusianya yang layak dan benar akan tetapi ini Allah lakukan karena inisitif Allah sendiri demi kemuliaan nama-Nya.
3. Kesimpulan :
Jadi kesimpulannya yaitu, semua lapisan masyarakat di muka bumi ini pernah mengalami konflik. Dalam kalangan keluarga Kristen pun tidak luput. Konflik ada manfaatnya jika diselesaikan dengan baik karena dapat membangun karakter atau pribadi seseorang namun akan sangat buruk jika diabaikan dan memberi dampak yang tidak bagus kepada orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Selain itu bisa berkepanjangan dan mengakibatkan kepahitan yang bisa di bawa sampai mati.
Hal bijak yang perlu dilakukan adalah secepatnya menyelesaikan, jika kesulitan minta bantuan kepada orang yang punya potensi untuk dapat melakukan hal tersebut.


[1]  Kejadian 2:15-18: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
[2] Kamus Wcyliffe  dalam kamus alkitab sabda for android
[3] Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang: Gandum Mas, 2009), hlm. 12
[4] Kamus  Jerusalem dalam kamus alkitab sabda for android

Senin, 30 November 2015

DOSA DAN PENYELAMATAN



Meskipun seseorang hanya tinggal di rumahnya sendiri, seorang diri saja, ia tidak bisa berkata bahwa ia tidak berdosa. Dalam Roma 3:10-18, Paulus mengutip ayat dari mazmur-mazmur, ada tertulis: “ tidak ada yang benar, seorang pun tidak”. Jelaslah bahwa semua orang adalah manusia berdosa, juga mereka yang berusaha untuk hidup sesuci mungkin (bdk. Rom.3:23) dengan kata lain, dosa kita memisahkan kita dari Tuhan yang kudus dan sempurna (dalam kebenaran dan keadilan) dan karena itu Tuhan harus menghukum dosa manusia, karena dosa adalah suatu masalah yang harus dihadapi oleh umat manusia. Tuhan sudah memberikan kepada kita dua cara untuk menghadapi masalah dosa, yaitu pengakuan dan pengampunan.
Dan di dalam Alkitab seringkali dikatakan bahwa syarat mutlak untuk mendapat pengampunan dosa atau penyelamatan adalah pengakuan  dosa. Umat Tuhan harus memberikan pengakuan kepada Tuhan dan orang lain dan menerima pengakuan dari orang-orang lain juga. Umat Tuhan harus memberikan pengampunan kepada orang lain dan menerima pengampunan dari Tuhan dan orang-orang lain. Pengakuan dan pengampunan adalah saling bergandengan.
Pengakuan dosa dalam proses konseling sangat penting. Konselor menolong konseli untuk mendapat damai sejahtera dengan orang lain maupun dengan diri sendiri, sehingga mereka dapat memberikan pujian kepada Tuhan. Dituntun agar jujur akan kelemahannya dan jujur akan kesalahan yang dilakukan, jujur akan sesuatu yang seharusnya dilakukan tapi dia tidak melakukannya, jujur akan masalah-masalah yang tidak diselesaikan, sehingga mereka secara penuh menerima pengampunan dari Tuhan. Seseorang yang datang kepada konselor untuk masalah yang dihadapinya tidak akan bisa dibantu untuk mengatasi masalahnya kalau masih berkancah di dalam dosanya. Jadi selain mengunggapkan masalah yang dihadapinya ia juga perlu untuk melakukan pengakuan dosa karena bisa menjadi kemungkinan dosa itu adalah akar masalah yang menekannya selama ini. Mereka perlu dituntun untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.  Allah yang turun dari tahta-Nya yang tertinggi dan masuk dalam dunia yang berdosa ini, termasuk orang-orang yang berdosa. Banyak orang yang mengalami tekanan hidup dan tidak menyadari bahwa hal itu tentu ada kaitannya dengan dosa yang dilakukan, dan akibatnya bukan hanya dia saja yang akan menuai akibat dosa itu tapi kepada keluarganya, kemungkinan lain bahwa masalah yang dihadapinya bisa bisa terjadi karena disebabkan oleh dosa orang tuanya, neneknya atau juga dari anak-anaknya, jadi punya kaitan satu dengan yang lainnya.
Yesus sendiri banyak kali menghadapi orang – orang yang jatuh ke dalam dosa, seperti Rasul Petrus, Zakheus, perempuan berzinah dan yang lebih populer diketahui adalah ketika Yesus hadir dalam kehidupan perempuan samaria pada sekitar pukul 12 di sebuah sumur. Yesus menawarkan diri-Nya sebagai Air Hidup yang akan diminum perempuan itu dalam arti perempuan itu harus sepenuhnya mempercayakan hidupnya kepada Tuhan, dan setelah itu Yesus juga menuntun perempuan itu untuk mengakui dosa zinah yang dilakukannya (Yoh 4) Yesus hadir dalam masalah mereka dan juga mau menolong untuk lepas dari dosa yang membelenggu mereka. Yesus yang akan menyelesaikan semuanya. Jadi harus punya keterhubungan dengan Yesus yang akan menolong dia untuk menghadapi masalahnya. Yesus kekal yang akan selalu hadir dalam kehidupan anak-anak-Nya sampai kapanpun, Ia tidak sama dengan kita yang hari ini ada besok lusa tidak diketahui di mana berada.
Seorang konseli haruslah mengakui dosa pribadi. Ayat yang juga cukup populer bagi kita adalah dari Markus 1:4,5 Yohanes Pembabtis datang ke padang belantara dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibabtis dan Allah akan mengampuni dosamu”. Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem sambil mengaku dosa, mereka dibabtis disungai Yordan” ini merupakan jantung dari pelayanan Yohanes Pembabtis. Dan Tuhan Yesus juga memulai pelayanan-Nya dengan hal yang sama. Tuhan Yesus memanggil orang untuk bertobat dan percaya. Di dalam gereja mula-mula, pengakuan itu dilakukan di depan publik. Ketika orang-orang berkumpul untuk beribadah, mereka diharapkan untuk berdiri dan memberi pengakuan mereka, yaitu untuk mengakui dosa mereka kepada Tuhan dan sesama, dan untuk menerima jaminan pengampunan melalui pemimpin ibadah.[1]
Tulus Tu’u pun dalam bukunya Dasar-Dasar Konseling Pastoral memahami bahwa dosa adalah salah satu kekuatan yang sangat besar di dunia ini. Sayangnya, kekuatan dosa ini adalah kekuatan yang selalu mengakibatkan dan menghasilkan hal-hal buruk bagi manusia. “Jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk,” (Yoh 5:14). Dosa bila dibiarkan dan tidak diselesaikan, akan membawa hal-hal yang lebih buruk lagi bagi seseorang. Ia akan kehilangan damai, ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Dunia dapat memberikan banyak hal kepadanya. Tetapi untuk apa mendapat dunia bila harus kehilangan nyawa? Hidup seperti ini adalah hidup yang percuma sebab di sana akan akan rintihan, jeritan, air mata, batin tersiksa, kuk yang berat, dan akhirnya melumpuhkan daya batin (Mzm.107:17, Rat 1:14).  Karena itu konselor perlu menolong konseli untuk menyadari keadaan dirinya yang tidak bersih di hadapan Tuhan. Konselor mengarahkan percakapan dengan respons interpretative agar konseli mencari Tuhan dan menyelesaikan dosanya sampai akhirnya ia menemukan hidup dan damai dengan Tuhan. Damai yang sejati adalah anugerah Kristus (Yoh. 14:27) dan tidak bisa ditemukan di tempat lain. Dialah yang berkuasa menyelesaikan dosa, mengampuni, membebaskan, dan memerdekakan setiap orang dari ikatan dosa.[2]
Selanjutnya Yakub. B. Susabda menyoroti dari segi pertobatan bahwa itu adalah hal yang terumit karena melibatkan setiap aspek dalam hidup manusia. Barangkali oleh karena rumitnya atau kurangnya pengetahuan dalam bidang ini, banyak hamba Tuhan yang cenderung untuk melupakan dan tidak mengabaikan persoalan di sekitar pertobatan. Dan ada beberapa sumbangan dari ahli-ahli psikologi tentang pertobatan:
1.      Pertobatan dimana secara mendadak seorang mengalami perubahan besar dalam hidupnya, terjadi oleh karena “peristiwa perubahan” dalam otak orang yang bersangkutan
2.      Pertobatan mendadak bisa terjadi oleh karena mendapatkan konfik-konflik batiniah yang tidak terselesaikan yang selama ini dideritanya.
3.      Pertobatan mendadak bisa terjadi oleh karena orang yang bersangkutan memang sudah memiliki bakat-bakat kearah itu.
4.      Pertobatan mendadak bisa terjadi oleh karena suggesti yaitu suatu manipulasi indera manusia[3]

Jadi yang menjadi kesimpulan bahwa seseorang yang ingin dibantu untuk mengatasinya masalahnya ia perlu melakukan pengakuan dosa dan mengalami pembebasan dan penyelamatan dari Allah, meskipun itu sulit dan berat karena ada perasaan malu serta merasa harga diri akan turun tapi ia akan tetap melakukannya. Mereka dituntun untuk memahami bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari kesalahan jadi tidak perlu takut untuk melakukan pengakuan.


[1] www.seabs.ac.id/journal/oktober2004/james%20Beck201.pdf
[2] Tulus Tu’u, Dasar-dasar Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2007), hlm. 35-36
[3] Yakub B. Susabda, Konseling Pastoral- Jilid 2 (Malang: Gandum Mas, 1996), hlm. 211-217

Kamis, 29 Oktober 2015

KONFLIK DALAM KEHIDUPAN UMAT KRISTEN



BAB I
PENDAHULUAN

Konflik sangat sulit dipisahkan dari masyarakat, karena yang berkonflik tentu masyarakat itu sendiri. Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Sama seperti yang dikatakan oleh Agus M.Hardjana dalam bukunya Konflik di tempat kerja bahwa konflik dapat melibatkan siapa saja: orang muda, orang tua; orang sederhana, orang terpelajar; orang dari rakyat jelata, orang dari kalangan atas. Dapat terjadi karena alasan apa saja, dari yang sepele, masalah jasmani, masalah rohani. Dapat timbul kapan saja: pagi, siang, malam. Dapat mengambil tempat di mana saja: di gubuk gelandangan di bawah jembatan, di rumah gendongan di kawasan elite, di istana pemimpin Negara dan raja-raja. Dapat tampil dalam intensitas bagaimana saja: lunak, keras, sangat keras. Konflik merupakan fakta nyata kehidupan yang dapat terjadi. mau tidak mau, siap tak siap, pada suatu saat dalam hidupnya orang terpaksa berhadapan dengannya. [1]
Karena dapat terjadi di mana-mana, gereja atau kalangan orang Kristen pun tidak luput, menyangkut rekan kerja atau rekan sepelayanan, sesama jemaat, sesama anggota keluarga. Jadi kalau tidak segera ditangani maka hal itu akan semakin merajalela dan mengganggu bahkan merugikan diri dan orang lain. Konflik dapat menimbulkan aksi dan reaksi dari para pelaku maupun pihak luar.
Dengan demikin kesadaran akan adanya konflik dalam kehidupan umat Kristen menjadi penting, karena dalam status dirinya sebagai manusia biasa yang hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan hidup dengan orang lain, maka akan selalu ada peluang untuk berkonflik dengan orang lain.   
                                               



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Arti Konflik

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.[2] Konflik/permusuhan adalah proses sosial yang terjadi ketika pihak yang satu berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Permusuhan atau konflik diawali dengan adanya perbedaan atau persaingan yang serius sehingga sulit didamaikan atau ditemukan kesamaannya. Sebenaranya konflik dapat dan sangat wajar terjadi dalam sebuah interaksi sosial.[3]
Konflik, perselisihan, percekcokan, pertentangan merupakan pengalaman hidup yang cukup mendasar, karena meskipun tidak harus, tetapi mungkin bahkan amat mungkin terjadi. seperti pengalaman hidup yang lain, konflik tidak dapat dirumuskan secara ketat. Lebih tepat bila konflik itu diuraikan dan dilukiskan. Konflik terjadi manakala dalam hubungan antara dua orang atau dua kelompok, perbuatan yang satu berlawanan dengan perbuatan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu. Perbuatan dapat mengganggu karena tidak mendukung, memudahkan, membantu kegiatan dan situasi hidup yang sedang berlangsung atau malah merugikan, merusak dan melumpuhkannya. Oleh perbuatan yang menggangu itu satu atau kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik merasa terhambat, terhalangi, tidak mungkin melaksanakan kegiatan dan melangsungkan hidup sebagaimana diinginkan, serta mencapai tujuan kegiatan dan hidupnya.[4]
Olah Schumann sendiri mengatakan bahwa sejarah manusia sejak permulaan sampai sekarang, diiringi kekerasan yang bersumber pada manusia sendiri. Segera setelah hubungan antara manusia dan Allah terputus, terputuskan pula hubungan di antara sesama manusia. Hati suami terhadap istri dan rekannya lekas mengeras dan mengeluarkan tuduhan yang hanya punya satu tujuan, yaitu menutupi kesalahan dan ketidakbenaran sendiri. lalu, langkah yang berikut menjadi lebih gawat lagi: di antara dua anak mereka timbul kecemburuan dan kebencian di pihak yang satu, sedangkan yang lain rupayanya belum sadar akan bahaya yang bangkit dengan perasaan itu, sehingga akhirnya ia kalah dan mati terbunuh.[5]
Jadi seperti yang dikatakan oleh Milburn Thompson dalam buku keadilan dan perdamaian bahwa konflik semakin tidak terelakkan. Hampir setiap orang sepakat bahwa perang merupakan cara terburuk dalam menanggapi konflik, tetapi banyak orang juga berargumentasi bahwa kadang-kadang memang dibutuhkan perang. Konflik merupakan akibat dari benturan kepentingan dan/atau gagasan. Untungnya, sering kali konflik antarnegara atau di dalam suatu Negara dapat diselesaikan tanpa kekerasan.[6]
Selanjutnya Walter Wink menyampaikan pemahamannya bahwa menurut banyak orang, kekekaran terutama dilakuka oleh para pemberontak yang menentang penindasan, dan bahwa kekerasan ini merupakan init sebab masalah kita. Padahal, yang benar adalah tata ekonomi, sosial dan politik, dimana kita hidup di dalamnya, dibangun atas dasar kekerasan, dikembangkan dengan menggunakan kekerasan, dan dikelola hanya dengan kekerasan[7]
Dapat disimpulkan bahwa konflik tidak hanya terjadi sekarang ini tapi sejak dulu ketika manusia berkonflik dengan Allah dalam ketidaktaan mereka kepada Tuhan lalu setelah itu karena adanya dosa maka konflik terus-menerus di hadapi oleh manusia.

B.     Gejala, Penyebab Konflik

Memang konflik tidak bisa diungkapkan secara terbuka, namun dapat dengan sendirinya terjadi karena karena ada yang menyebabkannya. Dan punya peluang untuk menghancurkan. Lalu apa gejala yang menandakan adanya konflik itu?  ada beberapa gejala berikut ini:[8]
1.          Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
2.          Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3.          Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.
4.          Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi searah cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Hugh Halverstadt dalam bukunya Konflik Gereja pula mengatakan bahwa tampaknya ada kekuatan-kekuatan tertentu yang membentuk perasaan dan perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam konflik gereja. Ketika orang Kirsten saling berbeda karena keyakinan atau komitmen, mereka mungkin akan saling mempertayakan atau bahkan mengutuk kerohanian  atau watak pihak lainnya. Harga diri mereka dipertaruhkan. Itulah sebabnya kelompok- kelompok itu dengan mudah berubah dan menanggapi perbedaan-perbedaan itu sebagai persoalan pribadi, bahkan melangsungkan serangan-serangan pribadi. Ketika anggota jemaat merasa bahwa padangan dunia mereka atau integritas pribadi mereka dipertayakan atau dikutuk, mereka sering secara emosional menjadi kasar dan berbuat kasar. Cara apapun akan digunakan untuk membenarkan tujuan mereka yaitu untuk melindungi diri mereka secara emosional.[9]

C.    Konflik yang ditemui dalam kehidupan umat Kristen

Sebelum membahas konflik yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, kita menoleh kepada Alkitab apa yang terjadi di sana. Dan sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa maka disitulah awal konflik hadir di muka bumi ini. Adam dan Hawa sudah tidak menampakkan kesehatian, Adam menyalahkan Hawa bahkan Allah sebagai penciptanya "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (bdk.Kej 3:12), setelah itu perempuan menyalahkan ular dan berlanjut kepada anak-anak mereka “Kain dan Habel”. Jadi konflik itu sepertinya warisan yang meskipun tidak direncakan dan diinginkan namun muncul secara turun-temurun. Dalam kisah hidup dan pelayanan para Rasul pun banyak kali berkonflik, bahkan Yesus banyak kali berkonflik dengan orang Farisi dan ahli Taurat.
Seperti yang diketahui di awal bahwa adanya suatu konflik disebabkan sumber konflik tersebut. Seorang pemimpin maupun orang yang berperan serta mengetahui sumber konflik sesungguhnya untuk dilakukan penyelesaian. Ada beberapa hal yang menyebabkan timbulnya konflik :
1.          Filosofi kepemimpinan dalam geraja/pelayanan yang tidak tepat.
2.          Arti persekutuan dan gereja atau sesama pelayanan yang sempit. Biasanya gereja/pelayanan hanya berkisar pada perhimpunan kehadiran dalam kebaktian dinilai sebagai kekristenan itu sendiri dan tidak memiliki dampak apa-apa kepada orang lain.
3.          Gereja ataupun pelayanan tidak punya visi atau tujuan yang jelas
4.          Masalah yang timbul bisa memicu adanya konflik.
Jadi sesuatu yang tidak dapat dimungkiri bahwa pernikahan Kristen pun tidak lepas dari kehidupan yang diwarnai dengan berbagai macam konflik. Mulai dari tingkat yang biasa sampai level yang lebih besar. Banyak keadaan sekitar yang memicu terjadinya konflik. Dan selain konflik di tengah masyarakat beberapa konflik dalam keluarga Kristen yang ditemui dalam jemaat yang tidak berbeda jauh dari yang disampaikan Andre di blog atau websitenya:
1.          Perbedaan pria dan wanita
Kebutuhan dan keinginan dari pria pastinya berbeda dari wanita. Pria cenderung praktis dan logis sedangkan wanita sistematis dan penuh perasaan.
2.          Perbedaan latar belakang keluarga
Sering terjadi konflik karena terkadang masing-masing bertahan sesuai dengan kebiasaan yang dibawa dari keluarga masing-masing.
3.          Perbedaan prioritas
Salah seorang dari mereka ingin membeli perlengkapan rumah tangga, tapi yang satunya menginginkan mereka menabung untuk persiapan anak mereka yang sementara di kandungan.
4.          Perbedaan kepribadian
Ada saat di mana salah satu dari mereka ingin bepergian dan refresing di tempat tertentu namun mendapat penolakan karena pasangannya ingin tenang di rumah menenangkan diri.
5.          Kehadiran anak
Menjadi masalah karena kadang anak dijadikan sebagai sumber masalah dan menambah beban.
6.          Anak sudah beranjak dewasa dan mulai meninggalkan rumah
Anak sudah mulai meninggalkan rumah dan lebih bergantung kepada teman-temannya. Dan ada saat di mana mereka dipaksa oleh keadaan untuk melakukan suatu pelanggaran. Orang tua yang mengetahui keadaan anak mereka akan saling menyalahkan dengan keberadaan anak bahkan bahkan saling melempar tanggung jawab.
7.          Konflik mengenai tanah/warisan
Tidak hanya terjadi dalam satu keluarga, namun terjadi antar saudara dan bahkan di dalam masyarakat.
8.          Kedudukan dalam masyarakat
Banyak yang menganggap diri sebagai tokoh masyarakat sehingga ketika ada saat dimana mereka tidak diberi tempat seperti yang mereka harapkan maka mereka akan marah. Banyak juga yang memang bukan tokoh masyarakat dengan kata lain hanya “Kios” masyarak tetapi menuntut yang tidak-tidak kepada masyarakat.
9.          Tanggung jawab untuk membayar utang (mis: pantunuan)
Keluarga Kristen banyak berkonflik di sekitar masalah adat termasuk di dalamnya adalah “Pantunuan” tentang siapa yang akan membayar utang.
10.      Persaingan antar keluarga
Bersaing mengenai kesuksesan dalam hal materi, dan yang paling menonjol adalah ketika orang tua mereka diupacarakan kematiannya maka mereka berlomba-lomba untuk memperlihatkan siapa di antara mereka yang paling banyak kerbau yang dikorbankan. Dan bagi yang punya banyak kerbau itulah yang selalu menindas mereka atau saudara mereka yang hanya memotong satu atau dua kerbau dan hal tersebut memicu terjadinya konflik di dalam keluarga.
11.      Kebutuhan tidak terpenuhi sesuai dengan yang diharapkan
Menikah dini tentu memicu konflik karena ada banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi, misalnya kebutuhan pangan dan sandang. Ada keinginan untuk bebas tapi sudah diikat oleh keluarga dan keadaan. Banyak juga yang bermasalah panda kebutuhan seks, sehingga sering meninggalkan rumah.
12.      Kalau anak bermusuhan dengan tetangga maka orang tua juga ikut bermusuhan
Ada banyak keluarga Kristen atau orang tua yang tidak bisa menempatkan dirinya sebagai orang yang mampu mendidik anak mereka secara benar. Karena mereka terbawa dengan emosi saat anak mereka datang mengadu lalu ikut campur dan timbullah konflik bersama dengan para orang tua atau tetangga.

D.    Akibat konflik dan Penyelesaian

Ada dua akibat yang ditimbulkan yakni positif dan negatif. Positifnya bahwa dapat membangun serta memperjelas tujuan yang hendak dicapai serta perhargaan dan penerimaan satu dengan yang lain semakin terasa. Sisi negatif dapat mempengaruhi kepribadian, pengalaman, orang mudah tersinggung dan panas hati; gampang marah; berpusat pada diri sendiri dan tidak peduli akan kepentingan orang lain. selanjutnya kerugian pada harta benda dan banyak hal lainnya. Jadi jika tidak diselesaikan maka hubungan akan renggang, saling tidak percaya dan saling curiga. Dalam situasi seperti itu makin ada peluang di mana komunikasi dapat putus, tidak ada lagi kerja sama.
Ketika kita salah memilih cara penyelesaian konflik, tidak hanya kita yang merasakan dampaknya, tetapi juga dapat membuat orang lain ataupun anak-anak percaya bahwa masalah tersebut timbul karena kesalahan mereka. Juga, orang tua yang sering menyelesaikan konflik dengan pertengkaran akan membuat anak-anak mereka hidup di dalam ketakutan. Lantas apa yang akan kita lakukan? Adalah tidak memberi perlawanan kepada kekerasan, melainkan bersikap tenang dan sabar, seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Roma “kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rm 12:21). Mesti memiliki keberanian dan kemampuan untuk saling mengampuni, sakit hati dan dendam hanya bisa diselesaikan melalui pengampunan. Semestinya belajar pada sikap Yusuf terhadap saudara-saudaranya, Raja Daud kepada Saul[10]
Karena keluarga Kristen tidak lepas dari yang namanya konflik maka keluarga tersebut harus menyadari bahwa mereka menerima perutusan dari Allah, untuk menjadi sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat. Perutusan itu akan dilaksanakannya, bila Gereja membawa dirinya menjadi bagaikan ruang ibadat Gereja di rumah[11]
Hugh Halverstadt menyodorkan langkah atau strategi bahwa konflik-konflik gereja tidak berakhir, sebelum berbagai perbedaan yang dipertikaikan itu diselesaikan. Masalah-masalah ini dapat dipecahkan dengan cara menang/kalah, kalah/kalah atau menang/menang. Tujuan etika Kristen dalam pengelolaan konflik adalah mencegah bentuk pemecahan selain penyelesaian menang/menang.[12]



BAB III
PENUTUP

Jadi kesimpulannya yaitu, semua lapisan masyarakat di muka bumi ini pernah mengalami konflik. Dalam kalangan keluarga Kristen pun tidak luput. Konflik ada manfaatnya jika diselesaikan dengan baik karena dapat membangun karakter atau pribadi seseorang namun akan sangat buruk jika diabaikan dan memberi dampak yang tidak bagus kepada orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Selain itu bisa berkepanjangan dan mengakibatkan kepahitan yang bisa di bawa sampai mati.
Hal bijak yang perlu dilakukan adalah secepatnya menyelesaikan, jika kesulitan minta bantuan kepada orang yang punya potensi untuk dapat melakukan hal tersebut.





[1] Bdk, Agus M. Hargjana, Konflik di Tempat kerja (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), hlm. 5
[2] id.wikipedia.org/wiki/Konflik
[3] temukanpengertian.blogspot.com/2013/09/pengertian-konflik.html
[4] Agus M. Hargjana, Konflik di Tempat kerja (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), hlm. 9-10
[5] Olah H. Schumann, Agama-Agama Kekerasan dan Perdamaian (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2011), hlm. 487-488
[6] J. Milburn Thompson, Keadilan dan Perdamaian ( Jakarta; BPK Gunung Mulia, 2009), hlm. 203
[7] Walter Wink , Damai adalah Satu-Satunya Jalan (Jakarta; BPK Gunung Mulia, 2012), hlm, 19
[8] andrie07.wordpress.com/
[9]Bdk,  Hugh F. Halverstadt, Konflik Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hlm. 2-3
[10] Bdk, Stop Kekerasan (Jakarta; BPK Gunung Mulia,2002), hlm. 39-40
[11] Bdk, Maurice Eminyan, SJ, Teologi Keluarga ( Yogyakarta; Penerbit Kanisius, 2004), hlm. 205
[12] Op,. cit Konflik Gereja. hlm. 219