Pendahuluan
.......
1. Allah Dapat dipercaya
Kita tidak mungkin dekat sama seseorang kalau orang itu tidak bisa dipercaya, begitupun sebaliknya. dstx...
saat melihat pohon ara kering sampai ke akar-akarnya, Petrus teringat bahwa benar2 terjadi apa yang Yesus lakukan terhadap pohon ara itu, jadi pohon ara yang mengering karena kutukan Yesus menjadi batu loncatan bagi diskusi tentang apa arit dari kepercayaan kepada Allah.
Yesus mengajak mereka untuk percaya kepada Allah dalam arti bahwa mereka mesti Iman yang teguh dan berkesinambungan/dalam segala sesuatu. tidak hanya ketika merasa nyaman atau dalam puncak-puncak keberhasilan barulah datang mendekat mengucap syukur kepada Tuhan, dan tidak juga ketika berada dalam lembah kekelaman barulah seseorang datang mendekatkan diri kepada Tuhan. tapi terkadang yang terjadi justru sebaliknya bahwa ketika seseorang dalam sebuah puncak keberhasilan justru semakin menjauh dari Tuhan dan merasa bahwa apa yang dicapainya itu adalah kerja keras dan usaha dirinya sendiri, sehingga tidak perlu untuk mengandalkan Tuhan, ada juga yang ketika berada dalam lembah kekelaman bukannya mendekat kepada Tuhan tapi justru semakin menjauh dan mencari tempat pelarian. iman yang berkesinambungan adalah apapun keadaan dan situasi akan tetap sama kepada Tuhan.
boleh juga dibahasakan sebagai iman yang bergantung kepada Allah: ingat anak-anak yang begitu berharga di mata Yesus, anal-anak dalam pandangan orang dewasa terkadang lemah karena punya kebergantuang yang kuat terhadap orang dewasa terutama kepada orang tua mereka, namun justru sikap seperti itu yang Tuhan kehendaki dari kita yakni punya kebergantungan yang kuat kepada Tuhan.
jadi dalam iman itu jika seseorang meminta sesuatu dalam doa yang disertai sikap percaya maka ia akan menerima apa yang dimintanyan itu.
2. Memindahkan Gunung
ketidakbimbangan dapat mencampakkan gunung. artinya dengan iman gunung dapat dipindahkan.
gunung tidak hanya bisa didaki dan berdiri diatasnya sambil menikmati pemandangan yang indah dari atasnya, namun Yesus menekankan kepada murid sesuatu yang diluar dugaan bahwa ternyata dalam kepercayaan kepadaNya maka gunng itu dapat dipindahkan. gunung memang sering mengahalang pandangan kita dan hanya kekuatan dari Tuhanlah yang memampukan kita menghadapinya.
gunung itu macam-macam:
gunung kekuatiran, gunung ketakutan, kepahitan dari hati serta memusnahkan melalui iman di dalam dia. kuasa iman yang juga dapat meruntuhkan tembok2 pemisah kurangnya pengampunan dapat menghambat kuasa doa.
jadi kadang2 hati yang sulit mengampuni bisa lebih kerang dari gunung manapun.
Minggu, 15 Mei 2016
Selasa, 05 Januari 2016
MANAJEMEN KONFLIK: MENGATASI KONFLIK SUAMI ISTRI YANG TERJADI PADA ADAM DAN HAWA. Kejadian 3:1-22. Oleh: Pdt. Yustina Pabidang, M.Th.
MANAJEMEN KONFLIK:
A. Jenis Konflik:
Dalam
konflik Adam dengan Hawa terjadi konflik
hubungan berdasarkan hubungan interpersonal, Adam telah memulai konflik
dengan Hawa istrinya karena kepentingan pribadi yang masing-masing membenarkan
diri di hadapan Allah. Bahkan saling mencari kambing hitam atas kesalahan yang
mereka perbuat.
B. Penyebab Konflik
1. Adam tidak menjalankan
tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk mengingatkan istrinya, karena
Adamlah yang mendapat perintah langsung dari Tuhan tentang buah larangan itu
(Kej. 2:15-17)[1] tanpa
sepengetahuan Hawa, karena pada ayat 18 Allah baru menyadari kalau tidak baik
jika manusia itu seorang diri saja, akan dihadirkan seorang penolong yang
sepadam dengan dia.
2. Ular yang
memperdaya Hawa. Ular ini menyerang Allah melalui ciptaan-Nya. Dia mengatakan
bahwa apa yang dikatakan Allah kepada Adam tidak benar (Kej 3:3-4); “Ular”
kemudian disebut sebagai Iblis (Why 12:9; Why 20:2). Iblis jelas menguasai ular
dan memakainya sebagai sarana dalam mengadakan pencobaan (2 Kor. 11:3,14; Why
20:2). Jadi dalam hal ini dalam kenyamanan yang mereka alami di taman yang
indah itu, ada pihak ketiga yang membuat mereka melanggar.
3. Hawa
membiarkan dirinya diperdaya oleh ular, meskipun ia sudah mengetahui akibat
yang ditimbulkan jika melakukan pelanggaran (Kej.3:3) tapi tidak mampu melawan
rayuan si iblis, bukannya menghindari.
C. Tahap-tahap
Terjadinya Konflik.
1) Berawal dari Adam yang tidak menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya untuk membimbing dan mengingatkan istrinya agar tidak
melakukan pelanggaran kepada Allah pencipta dan pemelihara mereka. Padahal dia
yang mendapat perintah langsung dari Tuhan tentang buah larangan itu, justru
ketika Hawa menawarkannya ia malah ikut memakannya, dan bukannya menegur Hawa.
(band. Kej.3:6b). Kejatuhan mereka ini yang membuat mereka nantinya berkonflik juga
karena kehadiran pihak ketiga, yakni Iblis, yang datang merayu dan memperdaya
Hawa untuk melawan Tuhan dengan melakukan pelanggaran. Awalnya Hawa menolak
dengan alasan yang sudah dia ketahui (mungkin dari suaminya) namun ular yang
begitu cerdik (Kej. 3:1) datang kepada Hawa dengan memenggal pesan Allah itu
bahwa “tentulah Allah berfirman: Semua
pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”. Dan perempuan itu
langsung menyahut ular itu. Ia meladeni godaan yang datang kepadanya. Jadi
secara tidak sadar perempuan itu menunjukkan kesediaan untuk berunding dengan
penggoda. Dia tidak memiliki kebijaksanaan seperti kata-kata Yesus dalam Matius
4:10 “Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada
tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti!" dan nasihat Yakobus dalam Yakobus 4:7. : “Karena itu
tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”. Perempuan
itu tidak bersalah, polos dan tidak curiga sehingga bukan merupakan tandingan
bagi si penggoda yang lihai. Perempuan itu tidak mau diam saja menyaksikan
Allah dipahami dengan tidak benar, karena itu dengan berani ia berusaha
membetulkan pernyataan si ular! Namun dia mengutip larangan Allah secara salah,
yaitu dengan menambahkan kata raba.[2]
Jadi saat melakukan tidakan itu, baik Hawa maupun Adam tidak bertanya kepada
Tuhan tentang tawaran yang diberikan oleh Iblis kepada mereka, mereka lebih
patuh kepada rayuan iblis dengan janji-janjinya bahwa sekali-kali mereka tidak
akan mati.(a.4-5). inilah kecerobohan mereka yang berakibat fatal turun-temurun,
mengalami keterpisahan dari Tuhan dan menjadi penyebab terjadinya konflik
antara Adam dan Hawa karena mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain.
D. Akibat Konflik
Akibat Positif.: Pada ayat
15 hal itu merupakan sinar pertama dari keselamatan mendatang, Pra-Injil,
karena tersirat janji Allah yang pertama mengenai rencana penebusan dunia.
Janji tersebut merupakan kemenangan mutlak umat manusia dan Allah atas Iblis
dan kejahatan melalui peperangan rohani antara keturunan wanita (yaitu, Tuhan
Yesus Kristus) melawan keturunan ular (yaitu, Iblis dan para pengikutnya). Di
sini Allah berjanji bahwa Kristus akan lahir dari seorang wanita (bdk. Yes.
7:14) dan akan “diremukkan” melalui penyaliban. Sekalipun demikian, Dia akan bangkit, dari antara orang
mati untuk membinasakan (yaitu “meremukkan”) Iblis, dosa, dan kematian secara
sempurna demi keselamatan umat manusia (bdk. Yes 53:5; Mat 1:20-23; Yoh 12:31;
Kis 26:18; Rom 5:18-19; 16:20; 1 Yoh 3:8; Wahy 20:10).[3]
Akibat Negatif : Hubungan
antara Adam dan Hawa yang tadinya harmonis kini harus retak karena
pemberontakan mereka kepada Tuhan dan tidak hidup saling mengingatkan. Dari
perbuatannya itu berakibat juga kepada anak-anaknya yakni Kain dan
Habel, Habel harus menjadi korban dari kejahatan Kain. Mereka saling
menyalahkan satu dengan yang lain. Hawa menyalahkan ular, lalu Adam menyalahkan
Hawa dengan menyebutnya sebagai perempuan, bahkan Adam juga menyalahkan Tuhan,
bahwa Tuhan sudah keliru menempatkan perempuan di sampingnya. ( Selain itu
mereka harus menerima kutuk dari Tuhan. Kepada Hawa a.16-19: “Susah payahmu....
akan kubuat sangat banyak” kehamilan dan melahirkan anak akan disertai dengan
rasa sakit. Yang melukiskan rasa sakit baik jasmaniah maupun mental. Hukuman
yang dijatuhkan Allah pada pasangan manusia yang pertama yang bersalah itu
mengenai mereka justru dalam tugas utamanya. Perempuan dihukum sebagai ibu dan
isteri, laki-laki sebagai pekerja. Dosa telah mengacaukan tata susunan
sebagaimana dikehendaki Allah: perempuan bukan lagi seorang teman bagi
laki-laki yang sederajat dengannya (Kej 2:18-24), tetapi seorang pembujuk
laki-laki yang diperbudak oleh pria guna mendapat anak, laki-laki bukan lagi
seorang juru kebun Allah di Eden, tetapi ia harus bergumul dengan tanah yang
menjadi musuhnya. Tetapi hukuman paling berat ialah: hilanglah persahabatan
yang terjalin antara manusia dan Allah, (Kej 3:23). Inilah hukuman yang
diwariskan manusia kepada keturunannya, sampai saat ini dan itulah yang memicu
adanya konflik karena dosa dalam diri dan orang lain yang melahirkannya.[4]
E. Penyelesaian Konflik/Managemen Konflik.
1. Fakta
ADAM
|
HAWA
|
Menerima
Langsung perintah dari Tuhan tentang buah laranngan. (Kej 2:15-17)
|
Tidak
mendengar langsung dari Allah karena belum diciptakan. Dan kemungkinan hanya
mendengar dari suaminya. (Kej 3:2-3)
|
Adam tidak
digoda langsung oleh Iblis namun ia mendengarkan perkataan istrinya dan
memakan buah larangan.
|
Didekati
oleh ular karena berpeluang mudah tergoda dan takluk lewat pendengaran
|
Fakta
bahwa Adam harus bersusah payah untuk mengerjakan tanah yang telah dikutuk
Allah
|
Hawa harus
menderita dan tunduk kepada laki-laki.
|
Adam
“dimusuhi” oleh Allah dan diusir dari Eden
|
Hawa “dimusuhi”
oleh Allah dan diusir dari Eden
|
1. Gaya
manajemen konflik yang diterapkan Adam dan Hawa adalah “Gaya Competing, yaitu saya menang dan anda kalah. Adam menyalahkan
Hawa agar diloloskan dari penghakiman dan hukuman Allah, sebaliknya Hawa
mencari kambing hitam dari kesalahan yang dibuatnya itu. (a.12-13)
2. Kategori
gaya manajemen konfliknya adalah:”menyalahkan
satu dengan yang lainnya” asumsi dasarnya adalah : semua pihak yang sedang
konflik tidak menemukan jalan konflik pada saat itu, akan tetapi langsung
menerima akibat dari tindakan mereka.
3. Taktik
penanganan konflik Adam dan Hawa adalah sebagai berikut: ketika mereka tidak
mengakui kelemahan masing-masing yang justru saling menyalahkan dan mencari
kambing hitam, Allah langsung mengumunkan akibat dari kesalahan mereka itu, dan
juga harus diusir dari hadapan Tuhan dan dari taman Eden. Penanganan konflik
ini nanti 2000 tahun berikutnya dan Allah sendiri yang turun tangan
menyelesaikan konflik itu melalui kehadiran diriNya dalam pengorbanan Yesus Kristus
di kayu salib, (bdk. Rm. 5 17-19; Ibr. 9:28).
F. Kesimpulan.
1. Pesan : Dari sudut pandang teologis, Adam dan Hawa tidak pernah menduga dengan
resiko yang harus mereka terima, keindahan kemuliaan Tuhan dan taman Eden itu
harus seketika hilang dari depan mereka. Akibatnya tidak hanya mereka yang
menanggung pelanggaran itu namun semua orang dibuatnya berdosa dan kehilangan
kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Setiap manusia di kandung dalam dosa dan
diperanakkan dalam kesalahan seperti yang dikisahkan oleh Daud dalam Mazmur
51:7)
2. Aplikasi : Bila kita berhubungan dengan
orang lain, cepat atau lambat kita akan bertemu dengan konflik. Tidak berarti
bila kita hidup sendirian dan tidak berhubungan dengan orang lain, kita tidak
bertemu konflik; karena konflik juga dapat terjadi didalam diri sendiri, yaitu
konflik pribadi. Konflik muncul ditengah relasi antar manusia karena tidak ada manusia
yang sama persis; sehingga seringkali tiap orang memiliki ‘pandangan’ yang
berbeda dalam melihat suatu masalah. Bila ada orang yang selalu setuju dengan
kita, kemungkinan besar orang tersebut hanya melakukan apa yang kita inginkan
bukan apa yang dia percaya. Jadi setiap orang yang sedang membangun dan
mengembangkan sebuah relasi antarpribadi yang mendalam, pasti akan menjumpai
berbagai konflik (pertentangan) dengan teman berelasinya. Menciptakan konflik
harus bertanggung jawab dan siap dengan segala resiko yang ada, tidak dengan
mencari kambing hitam untuk keselamatan diri sendiri.
Memang
konflik yang dialami Adam dan Hawa ini berbeda dari beberapa konflik yang
dijumpai dalam Alkitab, konflik yang lainnya itu dalam waktu yang relatif
singkat menuju pada penyelesaian sedang mereka ini tidak. Justru Allah
menyelesaikan konflik itu pada saat mereka sudah tidak ada. Jadi dengan bagian
ini kita perlu belajar untuk tidak membiarkan konflik itu berlarut-larut dan
membawa masalah pada orang lain atau generasi berikutnya. Konflik tidak perlu
dihindari atau dibiarkan, tapi harus ada keberanian untuk melakukan pengakuan
dan juga melibatkan Tuhan untuk menangani hal itu. Tidak peduli seberapa
kuatnya dan besarnya rintangan menuju penyelesaian, Allah berkuasa untuk
mengatasinya, meskipun harus mengorbankan diri-Nya sendiri. Namun yang menjadi
catatan bahwa Allah mendamaikan diriNya dengan manusia berdosa bukan karena
manusianya yang layak dan benar akan tetapi ini Allah lakukan karena inisitif
Allah sendiri demi kemuliaan nama-Nya.
3. Kesimpulan :
3. Kesimpulan :
Jadi kesimpulannya
yaitu, semua lapisan masyarakat di muka bumi ini pernah mengalami konflik.
Dalam kalangan keluarga Kristen pun tidak luput. Konflik ada manfaatnya jika
diselesaikan dengan baik karena dapat membangun karakter atau pribadi seseorang
namun akan sangat buruk jika diabaikan dan memberi dampak yang tidak bagus
kepada orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Selain itu bisa
berkepanjangan dan mengakibatkan kepahitan yang bisa di bawa sampai mati.
Hal bijak yang perlu
dilakukan adalah secepatnya menyelesaikan, jika kesulitan minta bantuan kepada
orang yang punya potensi untuk dapat melakukan hal tersebut.
[1] Kejadian 2:15-18: “TUHAN Allah mengambil
manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan
memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia:
"Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan
buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." TUHAN
Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku
akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
[2] Kamus
Wcyliffe dalam kamus alkitab sabda for
android
[3] Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,
(Malang: Gandum Mas, 2009), hlm. 12
[4]
Kamus Jerusalem dalam kamus alkitab
sabda for android
Senin, 30 November 2015
DOSA DAN PENYELAMATAN
Meskipun
seseorang hanya tinggal di rumahnya sendiri, seorang diri saja, ia tidak bisa berkata
bahwa ia tidak berdosa. Dalam Roma 3:10-18, Paulus mengutip ayat dari
mazmur-mazmur, ada tertulis: “ tidak ada yang benar, seorang pun tidak”.
Jelaslah bahwa semua orang adalah manusia berdosa, juga mereka yang berusaha
untuk hidup sesuci mungkin (bdk. Rom.3:23) dengan kata lain, dosa kita
memisahkan kita dari Tuhan yang kudus dan sempurna (dalam kebenaran dan
keadilan) dan karena itu Tuhan harus menghukum dosa manusia, karena dosa adalah
suatu masalah yang harus dihadapi oleh umat manusia. Tuhan sudah memberikan
kepada kita dua cara untuk menghadapi masalah dosa, yaitu pengakuan dan
pengampunan.
Dan
di dalam Alkitab seringkali dikatakan bahwa syarat mutlak untuk mendapat
pengampunan dosa atau penyelamatan adalah pengakuan dosa. Umat Tuhan harus memberikan pengakuan
kepada Tuhan dan orang lain dan menerima pengakuan dari orang-orang lain juga.
Umat Tuhan harus memberikan pengampunan kepada orang lain dan menerima
pengampunan dari Tuhan dan orang-orang lain. Pengakuan dan pengampunan adalah
saling bergandengan.
Pengakuan
dosa dalam proses konseling sangat penting. Konselor menolong konseli untuk
mendapat damai sejahtera dengan orang lain maupun dengan diri sendiri, sehingga
mereka dapat memberikan pujian kepada Tuhan. Dituntun agar jujur akan
kelemahannya dan jujur akan kesalahan yang dilakukan, jujur akan sesuatu yang
seharusnya dilakukan tapi dia tidak melakukannya, jujur akan masalah-masalah
yang tidak diselesaikan, sehingga mereka secara penuh menerima pengampunan dari
Tuhan. Seseorang yang datang kepada konselor untuk
masalah yang dihadapinya tidak akan bisa dibantu untuk mengatasi masalahnya
kalau masih berkancah di dalam dosanya. Jadi selain mengunggapkan masalah yang
dihadapinya ia juga perlu untuk melakukan pengakuan dosa karena bisa menjadi
kemungkinan dosa itu adalah akar masalah yang menekannya selama ini. Mereka perlu
dituntun untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Allah yang turun dari tahta-Nya yang tertinggi
dan masuk dalam dunia yang berdosa ini, termasuk orang-orang yang berdosa. Banyak
orang yang mengalami tekanan hidup dan tidak menyadari bahwa hal itu tentu ada
kaitannya dengan dosa yang dilakukan, dan akibatnya bukan hanya dia saja yang
akan menuai akibat dosa itu tapi kepada keluarganya, kemungkinan lain bahwa
masalah yang dihadapinya bisa bisa terjadi karena disebabkan oleh dosa orang
tuanya, neneknya atau juga dari anak-anaknya, jadi punya kaitan satu dengan
yang lainnya.
Yesus
sendiri banyak kali menghadapi orang – orang yang jatuh ke dalam dosa, seperti
Rasul Petrus, Zakheus, perempuan berzinah dan yang lebih populer diketahui
adalah ketika Yesus hadir dalam kehidupan perempuan samaria pada sekitar pukul
12 di sebuah sumur. Yesus menawarkan diri-Nya sebagai Air Hidup yang akan
diminum perempuan itu dalam arti perempuan itu harus sepenuhnya mempercayakan
hidupnya kepada Tuhan, dan setelah itu Yesus juga menuntun perempuan itu untuk
mengakui dosa zinah yang dilakukannya (Yoh 4) Yesus hadir dalam masalah mereka
dan juga mau menolong untuk lepas dari dosa yang membelenggu mereka. Yesus yang
akan menyelesaikan semuanya. Jadi harus punya keterhubungan dengan Yesus yang
akan menolong dia untuk menghadapi masalahnya. Yesus kekal yang akan selalu
hadir dalam kehidupan anak-anak-Nya sampai kapanpun, Ia tidak sama dengan kita
yang hari ini ada besok lusa tidak diketahui di mana berada.
Seorang
konseli haruslah mengakui dosa pribadi. Ayat yang juga cukup populer bagi kita
adalah dari Markus 1:4,5 Yohanes Pembabtis datang ke padang belantara dan
menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibabtis dan Allah akan mengampuni
dosamu”. Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan
semua penduduk Yerusalem sambil mengaku dosa, mereka dibabtis disungai Yordan”
ini merupakan jantung dari pelayanan Yohanes Pembabtis. Dan Tuhan Yesus juga
memulai pelayanan-Nya dengan hal yang sama. Tuhan Yesus memanggil orang untuk
bertobat dan percaya. Di dalam gereja mula-mula, pengakuan itu dilakukan di
depan publik. Ketika orang-orang berkumpul untuk beribadah, mereka diharapkan
untuk berdiri dan memberi pengakuan mereka, yaitu untuk mengakui dosa mereka
kepada Tuhan dan sesama, dan untuk menerima jaminan pengampunan melalui
pemimpin ibadah.[1]
Tulus
Tu’u pun dalam bukunya Dasar-Dasar Konseling Pastoral memahami bahwa dosa
adalah salah satu kekuatan yang sangat besar di dunia ini. Sayangnya, kekuatan
dosa ini adalah kekuatan yang selalu mengakibatkan dan menghasilkan hal-hal
buruk bagi manusia. “Jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi
yang lebih buruk,” (Yoh 5:14). Dosa bila dibiarkan dan tidak diselesaikan, akan
membawa hal-hal yang lebih buruk lagi bagi seseorang. Ia akan kehilangan damai,
ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Dunia dapat memberikan banyak hal
kepadanya. Tetapi untuk apa mendapat dunia bila harus kehilangan nyawa? Hidup
seperti ini adalah hidup yang percuma sebab di sana akan akan rintihan,
jeritan, air mata, batin tersiksa, kuk yang berat, dan akhirnya melumpuhkan
daya batin (Mzm.107:17, Rat 1:14).
Karena itu konselor perlu menolong konseli untuk menyadari keadaan
dirinya yang tidak bersih di hadapan Tuhan. Konselor mengarahkan percakapan
dengan respons interpretative agar konseli mencari Tuhan dan menyelesaikan
dosanya sampai akhirnya ia menemukan hidup dan damai dengan Tuhan. Damai yang
sejati adalah anugerah Kristus (Yoh. 14:27) dan tidak bisa ditemukan di tempat
lain. Dialah yang berkuasa menyelesaikan dosa, mengampuni, membebaskan, dan
memerdekakan setiap orang dari ikatan dosa.[2]
Selanjutnya
Yakub. B. Susabda menyoroti dari segi pertobatan bahwa itu adalah hal yang
terumit karena melibatkan setiap aspek dalam hidup manusia. Barangkali oleh
karena rumitnya atau kurangnya pengetahuan dalam bidang ini, banyak hamba Tuhan
yang cenderung untuk melupakan dan tidak mengabaikan persoalan di sekitar
pertobatan. Dan ada beberapa sumbangan dari ahli-ahli psikologi tentang
pertobatan:
1. Pertobatan
dimana secara mendadak seorang mengalami perubahan besar dalam hidupnya,
terjadi oleh karena “peristiwa perubahan” dalam otak orang yang bersangkutan
2. Pertobatan
mendadak bisa terjadi oleh karena mendapatkan konfik-konflik batiniah yang
tidak terselesaikan yang selama ini dideritanya.
3. Pertobatan
mendadak bisa terjadi oleh karena orang yang bersangkutan memang sudah memiliki
bakat-bakat kearah itu.
4. Pertobatan
mendadak bisa terjadi oleh karena suggesti yaitu suatu manipulasi indera
manusia[3]
Jadi
yang menjadi kesimpulan bahwa seseorang yang ingin dibantu untuk mengatasinya
masalahnya ia perlu melakukan pengakuan dosa dan mengalami pembebasan dan
penyelamatan dari Allah, meskipun itu sulit dan berat karena ada perasaan malu
serta merasa harga diri akan turun tapi ia akan tetap melakukannya. Mereka
dituntun untuk memahami bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari kesalahan
jadi tidak perlu takut untuk melakukan pengakuan.
Kamis, 29 Oktober 2015
KONFLIK DALAM KEHIDUPAN UMAT KRISTEN
BAB I
PENDAHULUAN
Konflik sangat
sulit dipisahkan dari masyarakat, karena yang berkonflik tentu masyarakat itu
sendiri. Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan
tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya
atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan
dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Sama seperti
yang dikatakan oleh Agus M.Hardjana dalam bukunya Konflik di tempat kerja bahwa
konflik dapat melibatkan siapa saja: orang muda, orang tua; orang sederhana,
orang terpelajar; orang dari rakyat jelata, orang dari kalangan atas. Dapat
terjadi karena alasan apa saja, dari yang sepele, masalah jasmani, masalah
rohani. Dapat timbul kapan saja: pagi, siang, malam. Dapat mengambil tempat di
mana saja: di gubuk gelandangan di bawah jembatan, di rumah gendongan di
kawasan elite, di istana pemimpin Negara dan raja-raja. Dapat tampil dalam
intensitas bagaimana saja: lunak, keras, sangat keras. Konflik merupakan fakta
nyata kehidupan yang dapat terjadi. mau tidak mau, siap tak siap, pada suatu
saat dalam hidupnya orang terpaksa berhadapan dengannya. [1]
Karena dapat
terjadi di mana-mana, gereja atau kalangan orang Kristen pun tidak luput,
menyangkut rekan kerja atau rekan sepelayanan, sesama jemaat, sesama anggota
keluarga. Jadi kalau tidak segera ditangani maka hal itu akan semakin
merajalela dan mengganggu bahkan merugikan diri dan orang lain. Konflik dapat
menimbulkan aksi dan reaksi dari para pelaku maupun pihak luar.
Dengan demikin
kesadaran akan adanya konflik dalam kehidupan umat Kristen menjadi penting,
karena dalam status dirinya sebagai manusia biasa yang hidup tidak hanya untuk
dirinya sendiri melainkan hidup dengan orang lain, maka akan selalu ada peluang
untuk berkonflik dengan orang lain.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Arti Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere
yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu
proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah
satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya.[2] Konflik/permusuhan
adalah proses sosial yang terjadi ketika pihak yang satu berusaha menyingkirkan
pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Permusuhan
atau konflik diawali dengan adanya perbedaan atau persaingan yang
serius sehingga sulit didamaikan atau ditemukan kesamaannya. Sebenaranya
konflik dapat dan sangat wajar terjadi dalam sebuah interaksi sosial.[3]
Konflik,
perselisihan, percekcokan, pertentangan merupakan pengalaman hidup yang cukup
mendasar, karena meskipun tidak harus, tetapi mungkin bahkan amat mungkin
terjadi. seperti pengalaman hidup yang lain, konflik tidak dapat dirumuskan
secara ketat. Lebih tepat bila konflik itu diuraikan dan dilukiskan. Konflik
terjadi manakala dalam hubungan antara dua orang atau dua kelompok, perbuatan
yang satu berlawanan dengan perbuatan yang lain, sehingga salah satu atau
keduanya saling terganggu. Perbuatan dapat mengganggu karena tidak mendukung,
memudahkan, membantu kegiatan dan situasi hidup yang sedang berlangsung atau
malah merugikan, merusak dan melumpuhkannya. Oleh perbuatan yang menggangu itu
satu atau kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik merasa terhambat,
terhalangi, tidak mungkin melaksanakan kegiatan dan melangsungkan hidup
sebagaimana diinginkan, serta mencapai tujuan kegiatan dan hidupnya.[4]
Olah
Schumann sendiri mengatakan bahwa sejarah manusia sejak permulaan sampai
sekarang, diiringi kekerasan yang bersumber pada manusia sendiri. Segera
setelah hubungan antara manusia dan Allah terputus, terputuskan pula hubungan
di antara sesama manusia. Hati suami terhadap istri dan rekannya lekas mengeras
dan mengeluarkan tuduhan yang hanya punya satu tujuan, yaitu menutupi kesalahan
dan ketidakbenaran sendiri. lalu, langkah yang berikut menjadi lebih gawat lagi:
di antara dua anak mereka timbul kecemburuan dan kebencian di pihak yang satu,
sedangkan yang lain rupayanya belum sadar akan bahaya yang bangkit dengan
perasaan itu, sehingga akhirnya ia kalah dan mati terbunuh.[5]
Jadi
seperti yang dikatakan oleh Milburn Thompson dalam buku keadilan dan perdamaian bahwa konflik semakin tidak terelakkan.
Hampir setiap orang sepakat bahwa perang merupakan cara terburuk dalam
menanggapi konflik, tetapi banyak orang juga berargumentasi bahwa kadang-kadang
memang dibutuhkan perang. Konflik merupakan akibat dari benturan kepentingan
dan/atau gagasan. Untungnya, sering kali konflik antarnegara atau di dalam
suatu Negara dapat diselesaikan tanpa kekerasan.[6]
Selanjutnya
Walter Wink menyampaikan pemahamannya bahwa menurut banyak orang, kekekaran
terutama dilakuka oleh para pemberontak yang menentang penindasan, dan bahwa
kekerasan ini merupakan init sebab masalah kita. Padahal, yang benar adalah
tata ekonomi, sosial dan politik, dimana kita hidup di dalamnya, dibangun atas
dasar kekerasan, dikembangkan dengan menggunakan kekerasan, dan dikelola hanya
dengan kekerasan[7]
Dapat
disimpulkan bahwa konflik tidak hanya terjadi sekarang ini tapi sejak dulu
ketika manusia berkonflik dengan Allah dalam ketidaktaan mereka kepada Tuhan
lalu setelah itu karena adanya dosa maka konflik terus-menerus di hadapi oleh
manusia.
B. Gejala, Penyebab Konflik
Memang
konflik tidak bisa diungkapkan secara terbuka, namun dapat dengan sendirinya
terjadi karena karena ada yang menyebabkannya. Dan punya peluang untuk
menghancurkan. Lalu apa gejala yang menandakan adanya konflik itu? ada beberapa gejala berikut ini:[8]
1.
Perbedaan
individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
2.
Perbedaan
latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3.
Perbedaan
kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian
maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang
bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang
berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk
tujuan yang berbeda-beda.
4.
Perubahan-perubahan
nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi searah cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi searah cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Hugh
Halverstadt dalam bukunya Konflik Gereja pula mengatakan bahwa tampaknya ada
kekuatan-kekuatan tertentu yang membentuk perasaan dan perilaku pihak-pihak
yang terlibat dalam konflik gereja. Ketika orang Kirsten saling berbeda karena
keyakinan atau komitmen, mereka mungkin akan saling mempertayakan atau bahkan
mengutuk kerohanian atau watak pihak
lainnya. Harga diri mereka dipertaruhkan. Itulah sebabnya kelompok- kelompok
itu dengan mudah berubah dan menanggapi perbedaan-perbedaan itu sebagai
persoalan pribadi, bahkan melangsungkan serangan-serangan pribadi. Ketika anggota
jemaat merasa bahwa padangan dunia mereka atau integritas pribadi mereka
dipertayakan atau dikutuk, mereka sering secara emosional menjadi kasar dan
berbuat kasar. Cara apapun akan digunakan untuk membenarkan tujuan mereka yaitu
untuk melindungi diri mereka secara emosional.[9]
C. Konflik yang ditemui dalam kehidupan
umat Kristen
Sebelum
membahas konflik yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, kita menoleh kepada
Alkitab apa yang terjadi di sana. Dan sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa
maka disitulah awal konflik hadir di muka bumi ini. Adam dan Hawa sudah tidak
menampakkan kesehatian, Adam menyalahkan Hawa bahkan Allah sebagai penciptanya "Perempuan
yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku,
maka kumakan." (bdk.Kej 3:12), setelah itu perempuan menyalahkan ular dan
berlanjut kepada anak-anak mereka “Kain dan Habel”. Jadi konflik itu sepertinya
warisan yang meskipun tidak direncakan dan diinginkan namun muncul secara
turun-temurun. Dalam kisah hidup dan pelayanan para Rasul pun banyak kali
berkonflik, bahkan Yesus banyak kali berkonflik dengan orang Farisi dan ahli
Taurat.
Seperti
yang diketahui di awal bahwa adanya suatu konflik disebabkan sumber konflik
tersebut. Seorang pemimpin maupun orang yang berperan serta mengetahui sumber
konflik sesungguhnya untuk dilakukan penyelesaian. Ada beberapa hal yang
menyebabkan timbulnya konflik
:
1.
Filosofi
kepemimpinan dalam geraja/pelayanan yang tidak tepat.
2.
Arti
persekutuan dan gereja atau sesama pelayanan yang sempit. Biasanya
gereja/pelayanan hanya berkisar pada perhimpunan kehadiran dalam kebaktian
dinilai sebagai kekristenan itu sendiri dan tidak memiliki dampak apa-apa
kepada orang lain.
3.
Gereja
ataupun pelayanan tidak punya visi atau tujuan yang jelas
4.
Masalah
yang timbul bisa memicu adanya konflik.
Jadi
sesuatu yang tidak dapat dimungkiri bahwa pernikahan Kristen pun tidak lepas
dari kehidupan yang diwarnai dengan berbagai macam konflik. Mulai dari tingkat
yang biasa sampai level yang lebih besar. Banyak keadaan sekitar yang memicu terjadinya
konflik. Dan selain konflik di tengah masyarakat beberapa konflik dalam
keluarga Kristen yang ditemui dalam jemaat yang tidak berbeda jauh dari yang disampaikan
Andre di blog atau websitenya:
1.
Perbedaan pria dan wanita
Kebutuhan
dan keinginan dari pria pastinya berbeda dari wanita. Pria cenderung praktis
dan logis sedangkan wanita sistematis dan penuh perasaan.
2.
Perbedaan latar belakang keluarga
Sering terjadi konflik karena
terkadang masing-masing bertahan sesuai dengan kebiasaan yang dibawa dari
keluarga masing-masing.
3.
Perbedaan prioritas
Salah seorang dari mereka ingin
membeli perlengkapan rumah tangga, tapi yang satunya menginginkan mereka
menabung untuk persiapan anak mereka yang sementara di kandungan.
4.
Perbedaan kepribadian
Ada saat di mana salah satu dari
mereka ingin bepergian dan refresing di tempat tertentu namun mendapat
penolakan karena pasangannya ingin tenang di rumah menenangkan diri.
5.
Kehadiran anak
Menjadi masalah karena kadang anak
dijadikan sebagai sumber masalah dan menambah beban.
6.
Anak sudah beranjak dewasa dan
mulai meninggalkan rumah
Anak sudah mulai meninggalkan
rumah dan lebih bergantung kepada teman-temannya. Dan ada saat di mana mereka
dipaksa oleh keadaan untuk melakukan suatu pelanggaran. Orang tua yang
mengetahui keadaan anak mereka akan saling menyalahkan dengan keberadaan anak
bahkan bahkan saling melempar tanggung jawab.
7.
Konflik mengenai tanah/warisan
Tidak hanya terjadi dalam satu
keluarga, namun terjadi antar saudara dan bahkan di dalam masyarakat.
8.
Kedudukan dalam masyarakat
Banyak yang menganggap diri
sebagai tokoh masyarakat sehingga ketika ada saat dimana mereka tidak diberi
tempat seperti yang mereka harapkan maka mereka akan marah. Banyak juga yang
memang bukan tokoh masyarakat dengan kata lain hanya “Kios” masyarak tetapi
menuntut yang tidak-tidak kepada masyarakat.
9.
Tanggung jawab untuk membayar
utang (mis: pantunuan)
Keluarga Kristen banyak berkonflik
di sekitar masalah adat termasuk di dalamnya adalah “Pantunuan” tentang siapa
yang akan membayar utang.
10. Persaingan
antar keluarga
Bersaing mengenai kesuksesan dalam
hal materi, dan yang paling menonjol adalah ketika orang tua mereka
diupacarakan kematiannya maka mereka berlomba-lomba untuk memperlihatkan siapa
di antara mereka yang paling banyak kerbau yang dikorbankan. Dan bagi yang
punya banyak kerbau itulah yang selalu menindas mereka atau saudara mereka yang
hanya memotong satu atau dua kerbau dan hal tersebut memicu terjadinya konflik
di dalam keluarga.
11. Kebutuhan
tidak terpenuhi sesuai dengan yang diharapkan
Menikah dini tentu memicu konflik
karena ada banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi, misalnya kebutuhan pangan dan
sandang. Ada keinginan untuk bebas tapi sudah diikat oleh keluarga dan keadaan.
Banyak juga yang bermasalah panda kebutuhan seks, sehingga sering meninggalkan
rumah.
12. Kalau anak
bermusuhan dengan tetangga maka orang tua juga ikut bermusuhan
Ada banyak keluarga Kristen atau
orang tua yang tidak bisa menempatkan dirinya sebagai orang yang mampu mendidik
anak mereka secara benar. Karena mereka terbawa dengan emosi saat anak mereka
datang mengadu lalu ikut campur dan timbullah konflik bersama dengan para orang
tua atau tetangga.
D. Akibat konflik dan Penyelesaian
Ada
dua akibat yang ditimbulkan yakni positif dan negatif. Positifnya bahwa dapat
membangun serta memperjelas tujuan yang hendak dicapai serta perhargaan dan
penerimaan satu dengan yang lain semakin terasa. Sisi negatif dapat
mempengaruhi kepribadian, pengalaman, orang mudah tersinggung dan panas hati;
gampang marah; berpusat pada diri sendiri dan tidak peduli akan kepentingan
orang lain. selanjutnya kerugian pada harta benda dan banyak hal lainnya. Jadi
jika tidak diselesaikan maka hubungan akan renggang, saling tidak percaya dan
saling curiga. Dalam situasi seperti itu makin ada peluang di mana komunikasi
dapat putus, tidak ada lagi kerja sama.
Ketika
kita salah memilih cara penyelesaian konflik, tidak hanya kita yang merasakan
dampaknya, tetapi juga dapat membuat orang lain ataupun anak-anak percaya bahwa
masalah tersebut timbul karena kesalahan mereka. Juga, orang tua yang sering
menyelesaikan konflik dengan pertengkaran akan membuat anak-anak mereka hidup
di dalam ketakutan. Lantas apa yang akan kita lakukan? Adalah tidak memberi
perlawanan kepada kekerasan, melainkan bersikap tenang dan sabar, seperti yang
dikatakan Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Roma “kalahkanlah kejahatan
dengan kebaikan” (Rm 12:21). Mesti memiliki keberanian dan kemampuan untuk
saling mengampuni, sakit hati dan dendam hanya bisa diselesaikan melalui
pengampunan. Semestinya belajar pada sikap Yusuf terhadap saudara-saudaranya,
Raja Daud kepada Saul[10]
Karena
keluarga Kristen tidak lepas dari yang namanya konflik maka keluarga tersebut
harus menyadari bahwa mereka menerima perutusan dari Allah, untuk menjadi sel
pertama dan sangat penting bagi masyarakat. Perutusan itu akan dilaksanakannya,
bila Gereja membawa dirinya menjadi bagaikan ruang ibadat Gereja di rumah[11]
Hugh
Halverstadt menyodorkan langkah atau strategi bahwa konflik-konflik gereja
tidak berakhir, sebelum berbagai perbedaan yang dipertikaikan itu diselesaikan.
Masalah-masalah ini dapat dipecahkan dengan cara menang/kalah, kalah/kalah atau
menang/menang. Tujuan etika Kristen dalam pengelolaan konflik adalah mencegah
bentuk pemecahan selain penyelesaian menang/menang.[12]
BAB
III
PENUTUP
Jadi
kesimpulannya yaitu, semua lapisan masyarakat di muka bumi ini pernah mengalami
konflik. Dalam kalangan keluarga Kristen pun tidak luput. Konflik ada
manfaatnya jika diselesaikan dengan baik karena dapat membangun karakter atau
pribadi seseorang namun akan sangat buruk jika diabaikan dan memberi dampak
yang tidak bagus kepada orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Selain itu
bisa berkepanjangan dan mengakibatkan kepahitan yang bisa di bawa sampai mati.
Hal bijak yang
perlu dilakukan adalah secepatnya menyelesaikan, jika kesulitan minta bantuan kepada
orang yang punya potensi untuk dapat melakukan hal tersebut.
[1] Bdk, Agus M. Hargjana, Konflik
di Tempat kerja (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), hlm. 5
[2] id.wikipedia.org/wiki/Konflik
[3] temukanpengertian.blogspot.com/2013/09/pengertian-konflik.html
[4] Agus M. Hargjana, Konflik di
Tempat kerja (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), hlm. 9-10
[5] Olah H. Schumann, Agama-Agama Kekerasan dan Perdamaian (Jakarta:BPK
Gunung Mulia, 2011), hlm. 487-488
[6] J. Milburn Thompson, Keadilan dan Perdamaian ( Jakarta; BPK Gunung
Mulia, 2009), hlm. 203
[7] Walter Wink , Damai adalah Satu-Satunya Jalan (Jakarta; BPK Gunung
Mulia, 2012), hlm, 19
[8] andrie07.wordpress.com/
[9]Bdk, Hugh F. Halverstadt,
Konflik Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hlm. 2-3
[10] Bdk, Stop Kekerasan (Jakarta; BPK Gunung Mulia,2002), hlm. 39-40
[11] Bdk, Maurice Eminyan, SJ, Teologi Keluarga ( Yogyakarta; Penerbit
Kanisius, 2004), hlm. 205
[12] Op,. cit Konflik Gereja. hlm. 219
Langganan:
Postingan (Atom)
